Select Menu
» »Unlabelled » Pengakuan Mengejutkan Penjual Uang Kuno: Bukan Cuma Mahal, Dipakai Pesugihan hingga Hipnotis


taufik mou Oktober 27, 2021 0


Berpotensi jadi monkey business, belakangan ini uang yang sudah ditarik dari peredaran sehingga tidak berlaku serta uang kuno tiba-tiba dihargai tinggi. Fenomena itu bisa mudah dilihat dari banyaknya uang dengan katergori itu yang dijual mahal hingga puluhan juta rupiah di marketplace.

Rupanya uang kuno tidak hanya punya nilai ekonomi tinggi karena berbagai faktor seperti usia, kelangkaan, dan keunikan.

Dalam catatan Pikiran Rakyat, seorang penjual uang kuno pernah bercerita bahwa ada unsur klenik khususnya yang terkait dengan praktik pesugihan yang memanfaatkan uang kuno.

Terkait hal itu, pada 2015, pewarta senior Pikiran Rakyat, Ahmad Yusuf mewawancarai penjual uang kuno yang berlokasi di Bandung tepatnya di seputar Jalan Dewi Sartika dan Jalan Asia Afrika.

Memang lazimnya, uang kuno dicari pasangan pengantin yang akan melangsungkan pernikahan untuk keperluan mas kawin berupa uang yang pas dengan tanggal, bulan, dan tahun perayaan.

“Saya sering menerima titipan uang yang tak lagi utuh dari pelanggan. Saya tak keberatan. Jangankan sobek sedikit, uang yang tinggal separuhnya saja saya terima. Uang yang tak lagi utuh itu saya tukarkan ke Bank Indonesia di Jalan Braga. Kalau orang lain pasti malu menukarkannya,” kata pedagang uang kuno di Jalan Asia Afrika Kota Bandung, Udin, pada 2015.

Terkait dengan uang yang dijualnya, dia mengatakan, biasanya yang dicari orang adalah uang yang sesuai dengan tahun pembelian.

Contohnya untuk tahun 2015, uang yang dicari banyak orang adalah uang dengan nilai mulai dari Rp1, Rp5, hingga Rp10.

Demikian pula uang 5 sen keluaran tahun 1951 dengan gambar bunga padi. Ada pula yang mencari uang 5 sen keluaran tahun 1951 dan 50 sen keluaran tahun 1959.

Uang paling kuno yang dimiliki Udin merupakan produksi tahun 1921. Nilainya 1 sen dan 5 sen. Ia juga memiliki uang pecahan 10 sen buatan tahun 1948 dan 25 sen buatan tahun 1952 dan 1955.

Harga jual uang itu berpuluh kali lipat dari nilai intrinsiknya sehingga Udin bisa menangguk keuntungan lumayan.

Menurut dia, keberadaan para pedagang uang kuno tidaklah bersifat manasuka dan sembarangan. Ada semacam paguyuban meski segi permodalan, mereka mengusahakannya masing-masing.

Menurut dia, pembeli uang kuno tak hanya para kolektor, tetapi juga kalangan pelajar. Biasanya, para pelajar membeli uang kuno atau uang asing untuk keperluan tugas yang berkaitan dengan sejarah.

Dadang, sejawat Udin, mengungkapkan bahwa pedagang koin atau uang asing harus pula mengetahui nilai tukar mutakhirnya.

Sejauh pengalamannya, mata uang paling laku adalah riyal. Sementara itu, uang koin bisa dibilang tak laku bila ditukarkan ke money changer.

Meski demikian, para pedagang uang kuno akan menerima uang koin, apa pun bentuknya. ”Uang koin atau kertas yang sudah lecek atau hitam juga tak apa-apa, yang penting uang,” katanya.

Menurut dia, para pedagang punya cara khusus agar uang koin bisa kembali bersih yakni dengan menggunakan cairan tertentu. Setelah dibersihkan, mereka menjual uang koin berpuluh kali lipat dibandingkan nilai intrinsiknya.

Uang pecahan Rp500 misalnya, bisa dijual seharga Rp10.000. Bah­kan, semakin langka uang koin, terutama untuk keperluan menyesuaikan tanggal pernikahan, pembeli tak akan ragu mendapatkannya meski dengan harga tinggi.

Salah seorang pedagang yang juga cukup lama menekuni bisnis penjualan uang kuno adalah Enjang. Dia biasa mangkal di Jalan Dewi Sartika, Kota Bandung.

Tidak hanya untuk koleksi atau mahar, orang juga mencari uang kuno untuk keperluan klenik. Misalnya, sebagai syarat pesugihan dengan menyesuaikan tanggal, bulan, dan tahun ritual yang harus dilakukan.

”Kalau lembaran uang kertas kuno, sesuai dengan nomor serinya. Ada pula yang menggunakan koin untuk keperluan gendam atau hipnotis,” ujar dia.***

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar

Leave a Reply